Ditulis oleh Mutia on . Dilihat: 5

Prosedur dan Etika Pelayanan Ramah Penyandang Disabilitas

 

Etika dalam Berbicara dengan Penyandang Disabilitas secara Umum Dalam memberikan layanan bagi Penyandang Disabilitas, hakim dan aparatur Pengadilan agar memedomani prosedur dan etika sebagai berikut:

  1. Menjunjung tinggi 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun);
  2. Salam, sapa, dan bicara secara langsung dengan memelihara kontak mata, hindari berbicara dengan orang yang mendampingi atau Juru Bahasa Isyarat saat berkomunikasi dengan penyandang disabilitas;
  3. Fokuskan perhatian kepada Penyandang Disabilitas yang diajak bicara bukan pada kondisi kedisabilitasannya atau penampilan fisiknya;
  4. Kenalilah kebutuhan spesifik sesuai dengan keunikan setiap Penyandang Disabilitas, misalnya pengguna kursi roda membutuhkan bantuan dalam menaiki atau menuruni bidang miring;
  5. Bicara dengan jelas, mudah dipahami, tetap santun;
  6. Bahasa tubuh harus ramah karena Penyandang Disabilitas sensitif dengan kontak fisik dan komunikasi nonverbal;
  7. Jangan canggung untuk menyalami Penyandang Disabilitas, termasuk menyalami Penyandang Disabilitas yang menggunakan tangan palsu atau kaki palsu atau Penyandang Disabilitas yang mengalami gangguan gerak tangan. Pada dasarnya mereka senang diajak bersalaman. Namun perhatikan etika bersalaman dengan penyandang Disabilitas Netra dan Disabilitas Fisik tanpa tangan. Jika dengan disabilitas netra, sebaiknya memegang pergelangan tangan dahulu kemudian bersalaman. Jika dengan disabilitas fisik tanpa tangan, bisa dengan mengatupkan kedua belah tangan di dada sebagai pengganti bersalaman tangan;
  8. Jangan melihat Penyandang Disabilitas sebagai orang yang berbeda dari masyarakat pada umumnya. Lihatlah disabilitas sebagai bentuk keragaman di dalam masyarakat;
  9. Jika merasa Penyandang Disabilitas yang datang membutuhkan bantuan, jangan ragu untuk memastikannya dan tanyakan bagaimana cara Penyandang Disabilitas ingin dibantu;
  10. Kursi roda, tongkat, alat bantu dengar, tangan palsu, kaki palsu dan alat bantu lainnya merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Jangan memindahkan benda-benda tersebut tanpa persetujuan penggunanya;
  11. Berbicaralah dengan santai dan dengan nada bicara yang wajar, proporsional dan tetap santun;

Etika dalam Pendengaran Berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas

  1. Apabila Anda hendak memanggil Penyandang Disabilitas Pendengaran, lakukan hal ini: tepuk pundak orang bersangkutan, jika ia menoleh, lanjutkan percakapan. Hal lain yang Anda bisa lakukan adalah memati-hidupkan saklar lampu untuk menarik perhatiannya. Apabila perhatiannya sudah terfokus pada Anda, maka Anda dapat melanjutkan percakapan;
  2. Jika berkomunikasi dengan Penyandang Disabilitas Pendengaran, tanyakan terlebih dahulu: Apakah lebih nyaman menggunakan bahasa isyarat, bahasa lisan atau bahasa tulisan;
  3. Hindarilah berbicara terlalu cepat atau menggunakan kalimat dan atau bahasa yang terlalu rumit;
  4. Jika berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas Pendengaran, pastikan ia dapat melihat wajah Anda dengan jelas karena mereka memperhatikan ekspresi wajah dan gerak bibir anda saat berbicara.
  5. Apabila Anda bertemu dengan Penyandang Disabilitas Pendengaran pada salah satu telinga, cobalah tanya padanya mengenai posisi yang nyaman untuk berbicara; 6. Kebanyakan Penyandang Disabilitas Pendengaran mengalami kesulitan dalam memahami ucapan apabila terdapat suara bising. Ia juga sangat sensitif dengan suara yang keras. Jadi pastikan Anda berbicara dalam ruangan yang kondusif atau minim suara yang mengganggu;
  6. Jika Penyandang Disabilitas Pendengaran merasa kesulitan dalam memahami frase atau kata tertentu, cobalah untuk menemukan cara yang berbeda untuk mengatakan hal yang sama. Bisa juga dengan menggunakan bahasa tubuh untuk menjelaskan bahasa Anda;
  7. Jelaskan kepada Penyandang Disabilitas Pendengaran mengenai topik umum dari percakapan, hindari perubahan topik secara mendadak;
  8. Berbicaralah secara bergiliran dan hindari memotong pembicaraan lawan bicara. Jika berbicara dengan Penyandang Disabilitas yang mengalami hambatan berbicara, perhatikanlah setiap pembicaraan mereka dengan kesabaran. Jangan memotong pembicaraan atau merasa tahu dengan apa yang mereka katakan. Dengarkan, lalu beritahukan pemahaman Anda atas apa yang ia katakan untuk mengkonfirmasikannya;
  9. Jika berbicara dengan melibatkan Juru Bahasa Isyarat, jangan sekali-kali menghalangi atau berjalan di antara juru bahasa dan pengguna layanan mereka. Hal tersebut akan memutus komunikasi antara Penyandang Disabilitas dan Juru Bahasa Isyaratnya;
  10. Jika berbicara dengan melibatkan Juru Bahasa Isyarat, jaga kontak mata anda dengan penyandang disabilitas pendengaran, bukan dengan Juru Bahasa Isyaratnya.

Etika dalam Berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas Netra

  1. Apabila berbicara dengan Penyandang Disabilitas Netra, tanyakan kepadanya apakah ia membutuhkan bantuan. Kemudian perkenalkan siapa diri Anda. Jangan mendorong atau memegangnya dari belakang, sambil berjalan seolah-olah Anda yang dituntun, tetapi sodorkan lengan Anda untuk dipegangnya. Kemudian 19 tuntunlah dan biarkan ia mengikuti Anda. Bantuan jangan diberikan dengan cara berteriak dari kejauhan seperti ungkapan: kiri, kanan, mundur, maju dan seterusnya; 2. Jika menemui Penyandang Disabilitas Netra yang menggunakan tongkat, hindarilah menuntun dengan cara menarik tongkatnya. Tetapi jika Penyandang Disabilitas Netra tersebut berhadapan dengan lubang, parit atau rintangan yang berbahaya lainnya, maka jelaskan tentang situasi sekitar yang akan dihadapi;
  2. Jika Anda menuntun Penyandang Disabilitas Netra, biarkan ia memegang lengan Anda. Kemudian berjalanlah seperti biasa di samping agak ke depan supaya tidak menghalangi jalan di depan Penyandang Disabilitas Netra. Jangan lupa memberi isyarat atau informasi mengenai situasi yang dilalui, terutama rintangan berupa lubang, tiang listrik, pohon, tembok, tiang gedung dan rintanganrintangan lainnya yang akan dihadapi;
  3. Saat mendampingi Penyandang Disabilitas Netra menuju tangga, sampaikan untuk berhenti sejenak dan jika di depan ada tangga naik atau turun, lalu mulailah berjalan perlahan dalam menuruni atau menaiki tangga tersebut;
  4. Jika tangganya berupa eskalator, letakkan tangannya pada pegangan tangga bagian pangkal (tidak sejajar dengan anak tangga). Isyaratkan agar mengangkat salah satu kaki ke anak tangga. Biarkan posisi kedua kakinya berada pada anak tangga terdepan dibantu dengan pegangan tangannya yang berfungsi sebagai detektor ujung tangga;
  5. Jika Penyandang Disabilitas Netra ingin duduk, bantulah untuk meletakkan tangannya ke bagian atas dari kursi dan sandaran. Ini dilakukan sebagai cara untuk mengenalkan posisi kursi. Biarkan ia duduk sendiri dan jangan mendudukannya dengan cara memegang badan;
  6. Jika Anda berbicara dengan Penyandang Disabilitas Netra, dan Anda hendak meninggalkan mereka, maka beritahukanlah terlebih 20 dahulu. Bagaimanapun juga Penyandang Disabilitas Netra akan malu jika ia berbicara sendiri;
  7. Jika Anda bertemu dengan Penyandang Disabilitas Netra di tempat atau ruangan yang baru, maka jelaskan terlebih dahulu situasi tempat tersebut, terutama yang berhubungan langsung dengan fasilitas yang ada, seperti tempat duduk, tempat tidur, toilet, dan hal-hal lain yang dinilai berbahaya baginya;
  8. Jangan memindahkan barang-barang Penyandang Disabilitas Netra tanpa memberitahukannya terlebih dahulu. Pemindahan barang akan menyulitkan Penyandang Disabilitas Netra untuk menemukannya kembali. Termasuk jika Anda bermaksud memberikan suatu benda, maka beritahukanlah terlebih dahulu maksud pemberian Anda;
  9. Jika Anda menghidangkan makanan atau minuman untuk Penyandang Disabilitas Netra, maka aturlah lauk pauk dan sayur mayur sesuai arah jarum jam. Informasikan kepadanya tentang jenis makanan dan minuman tersebut sesuai posisi arah jarum jam. Misalnya, ayam di jam 12, tahu tempe di jam 3, nasi di jam 8, dan seterusnya, di dalam sebuah piring;

Etika dalam Berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas Fisik

  1. Jika Anda berinteraksi dengan pengguna kursi roda, pada saat Anda mendorong kursi roda, maka pastikan pengguna kursi roda tersebut duduk dalam posisi yang nyaman. Doronglah kursi roda sesuai dengan instruksinya. Termasuk ketika mendorong untuk jalan turun atau jalan naik. Hal ini perlu dilakukan agar pengguna kursi roda merasa nyaman dan aman ketika Anda mendorongnya;
  2. Jika Anda berhenti, jangan duduk di tumpuan tangan kursi roda. Jangan duduk di bawah sandaran kaki atau menumpukkan tangan dan menyandarkan kepala di pegangan kursi roda. Hal ini akan membuat Penyandang Disabilitas yang Anda dorong merasa tidak nyaman;
  3. Jika Anda berkomunikasi, usahakan posisi Anda dengan Penyandang Disabilitas tersebut setara. Jika Anda terlalu tinggi, pengguna kursi roda harus mendongak dan melihat ke atas. Kondisi ini sangat tidak nyaman bagi pengguna kursi roda. Carilah tempat duduk yang setara, sehingga komunikasi yang terjalin dapat berjalan dengan lancar dan nyaman;
  4. Jika Anda berjalan dengan orang yang memakai kruk, walker, tongkat, cane dan lain-lain, jangan berada di sampingnya. Orang tersebut merasa terhalangi dan tidak bebas menggerakkan alat bantu untuk berjalan, berjalanlah di belakangnya;
  5. Saat Anda berinteraksi dengan pengguna kursi roda, janganlah sekali-kali menawarkan bantuan dengan membawakan alat bantu mobilitasnya. Sebaiknya, bertanyalah lebih dulu bagaimana cara membantunya bermobilitas. Penyandang Disabilitas Daksa memiliki cara-cara yang berbeda ketika mereka berjalan dan melakukan mobilitasnya.

Etika dalam Berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas Mental

  1. Menanyakan hal-hal apa saja yang perlu diketahui oleh pemberi layanan, seperti waktu untuk istirahat, waktu untuk minum obat, hal-hal pemicu terjadinya relaps (kambuhnya gejala klinis) dan lain sebagainya;
  2. Berbicaralah langsung kepada penyandang disabilitas mental, jaga kontak mata anda dengan penyandang disabilitas mental, bukan pendampingnya;
  3. Jika terjadi relaps kambuhnya gejala klinis) maka penyandang disabilitas mental dibawa ke ruangan yang tenang (disarankan di ruang kesehatan) untuk menenangkan diri dengan pendampingan petugas yang memiliki keterampilan pertolongan pertama psikologis;
  4. Jika dalam masa pendampingan penyandang disabilitas mengalami kegawatan, maka pengadilan merujuk penanganannya kepada fasilitas kesehatan atau ahli yang lebih berkompeten.

Etika dalam Berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas Intelektual

  1. Percakapan harus dalam cara yang ramah.
  2. Berbicaralah langsung kepada penyandang disabilitas intelektual, jaga kontak mata anda dengan penyandang disabilitas mental, bukan pendampingnya.
  3. Hindari berbicara di tempat yang ramai.
  4. Perbanyak senyum ketika berinteraksi agar lawan bicara merasa lebih tenang.
  5. Sampaikan informasi secara bertahap dan satu persatu, dan hindari menyampaikan informasi secara bersamaan. Pastikan penyandang disabilitas intelektual paham dengan 1 informasi terlebih dahulu, baru memberikan informasi selanjutnya.
  6. Gunakan bahasa yang sederhana dan hindari penggunaan istilah rumit.
  7. Penyertaan informasi dalam bentuk gambar juga akan sangat membantu.

SURVEI KEPUASAN MASYARAKAT 2026

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Video PA Tanjungkarang

Hubungi Kami

PA TANJUNG KARANG

 

Jalan Untung Suropati No. 2, Kampung Baru, Kedaton

Kota Bandar Lampung,  Provinsi Lampung.

Telepon  :  +62 721 708629

Faksmile :  +62 721 705501

Whatsapp SIKEPO: 085126660188

Email :   Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Instagram : patanjungkarang

Facebook : PA TanjungKarang